Subscribe:

Pages

Senin, 11 April 2016

Perkembangan Kesehatan Mental, Kepribadian Sehat, dan Konsep Kepribadian Menurut Maslow

A. Perkembangan Kesehatan  Mental


Individu yang memiliki kepribadian matang akan memiliki penghargaan yang sehat terhadap dirinya sendiri, tidak bergantung pada orang lain (inferiority). Penghargaan yang diterima dari orang lain merupakan sesuatu yang memang layak untuk diterimanya. Mereka tidak membutuhkan ketenaran atau kemasyhuran yang kosong (semu), memiliki mental yang kokoh serta kontrol diri yang baik, mampu menerima kelemahan dan kesalahan diri dengan sikap positif.

Individu yang memiliki kesehatan secara psikologis memiliki sifat sangat mandiri dan mencintai orang lain, memiliki keinginan yang sehat untuk perluasan diri dan mereka banyak dikendalikan oleh perintah-perintah bathin, oleh fitrah sendiri, oleh kebutuhan alamiah, daripada  oleh masyarakat atau lingkungannya. Kepribadian yang sehat akan menemukan kebahagiaan dalam membantu orang lain serta tidak mengalami kebingungan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Perkembangan psikologis manusia yang bisa mencapai being needs ternyata jumlahnya tidak banyak, hanya 2% dari populasi. Manusia yang mencapai being needs bisa membedakan mana yang pura-pura dan mana yang nyata. Melihat persoalan kehidupan sebagai suatu yang harus dicari jalan keluarnya bukan sebagai takdir pribadi yang harus diterima dan pasrah. Memiliki persepsi yang berbeda mana yang dipakai sebagai alat  dan mana tujuan. Memiliki cara yang berbeda dalam bergaul dengan orang lain. 
        

B. Kepribadian Sehat 


Ciri dari kepribadian sehat adalah mampu mengaktualisasikan diri dengan baik, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Manusia harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial menghambat.

Individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah – masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2: yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).

            Ciri-ciri orang yang mengaktualisasikan diri :

1.                   Mengamati realitas secara efisien

Orang yang sehat akan memandang objek dan orang-orang di dunia dengan apa adanya, atau dapat dikatakan secara objektif. Sedangkan orang yang tidak sehat akan memandang segala sesuatu yang ada di dunia melalui kacamata mereka sendiri, mereka akan mencocokkannya sesuai dengan keinginan mereka sendiri, atau dapat dikatakan secara subjektif.

2.                   Penerimaan umum atas kodrat, orang-orang lain dan diri sendiri

Kepribadian yang sehat akan mampu menerima dan bersabar atas segala kekurangan yang dimiliki dirinya sendiri, orang lain, maupun spesies lainnya. Mereka tidak akan merasa malu, bersalah, apalagi memalsukan dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang neurotis akan dihantui dengan rasa malu dan bersalah atas segala kelemahan ataupun kekurangan yang ia miliki. 

3.                   Spontanitas, kesederhanaan, kewajaran

Pengaktualisasian diri dalam bertingkah lagu dilakukan secara wajar, jujur, bijaksana, dan penuh perhatian terhadap orang lain. Mereka akan bertingkah laku sesuai dengan kodrat mereka. Sedangkan, orang yang neurotis akan memalsukan dirinya, agar terhindar dari rasa malu dan bersalah.

4.                   Fokus pada masalah-masalah di luar diri mereka

Orang yang mengaktualisasikan dirinya akan mencintai pekerjaannya sendiri dan merasa cocok terhadap pekerjaannya. Mereka akan menghabiskan energinya dalam pekerjaan tersebut, serta mempunyai dedikasi yang tinggi pada pekerjaan, sehingga dapat memenuhi metakebutuhan-metakebutuhan. Dalam melakukan pekerjaan, mereka akan mengembangkan segala potensi yang dimiliki dan tidak terlalu mengharapkan keuangan, popularitas ataupun kekuasaan.

5.                   Kebutuhan akan privasi dan independensi

Orang yang mengaktualisasikan diri tidak akan bergantung pada orang lain dalam memuaskan segala kepuasan-kepuasan mereka, yang demikian akan menjauhkan diri mereka dengan orang lain. Tingkah laku dan perasaan mereka akan terarah kepada diri mereka sendiri, dan memungkinkan mereka mampu untuk membentuk pikiran, mencapai kepuasan, melaksanakan dorongan, dan dan disiplin mereka sendiri.

Orang yang neurotis dianggap sebagai parasit, karena akan menggantungkan dirinya kepada orang lain dalam memenuhi segala kepuasannya.

6.                   Berfungsi secara otonom

Kepribadian yang sehat akan mampu berdiri sendiri dan tidak terpengaruh terhadap segala krisis. Mereka akan berfungsi secara otonom terhadap lingkungan sosial dan fisik, serta tidak tergantung pada dunia nyata untuk memenuhi kepuasan mereka. Karena menurut mereka, sumber dan potensi datang dari dalam mereka sendiri, bukan dari alam. Orang yang neurotis akan sangat tergantung dengan dunia nyata untuk pemuasan motif-motif kekurangan.

7.                   Apresiasi yang senantiasa segar

Orang yang mengaktualisasikan diri akan senantiasa menghargai setiap peristiwa yang dialaminya, walaupun peristiwa itu berulang. Mereka akan tetap merasa kagum, terpesona.

8.                   Pengalaman-pengalaman mistik atau puncak

Pengalaman keagamaan yang mendalam akan menimbulkan perasaan hebat, kagum, terpesona, meluap-luap pada orang yang mengaktualisasikan diri. Orang yang sehat akan lebih sering mengalami pengalaman puncak daripada orang-orang biasa.

9.                   Minat sosial

Orang yang mengaktualisasikan diri dapat memahami perasaan orang lain serta memiliki keinginan untuk membantu sesama. Mereka akan merasa marah terhadap orang yang kasar ataupun menyakitkan diri mereka, tetapi mereka akan cepat memaafkannya.

10.               Hubungan antarpribadi

Orang yang mengaktualisasikan diri akan memiliki hubungan yang lebih erat dengan orang lain, walaupun jumlahnya lebih sedikit daripada hubungan antarpribadi dari orang-orang yang tidak mengaktualisasikan diri. Mereka memiliki keintiman, persahabatan, dan identifikasi diri yang lebih dalam.

11.               Struktur watak demokratis

Kepribadian yang sehat akan siap mendengarkan dan belajar dari siapa saja yang dapat mengajarkan sesuatu terhadap mereka. Mereka tidak akan membeda-bedakan kelas sosial, tingkat pendidikan, ras, agama, politik, dan warna kulit.

12.               Perbedaan antara sarana dan tujuan, antara baik dan buruk

Kepribadian yang sehat akan mampu membedakana antara sarana dan tujuan serta baik dan buruk. Orang yang neurotis akan cenderung tidak konsisten terhadap hal etis dan terombang-ambing antara benar dan salah.

13.               Perasaan humor yang tidak menimbulkan permusuhan

Humor pengaktualisasi diri akan menertawakan manusia pada hal yang umum, langsung pada hal yang dituju dan menimbulkan tertawa. Orang yang kurang sehat menertawakan tiga macam humor: humor permusuhan yang menyebabkan seseorang merasakan sakit, humor superiroritas yang mengambil keuntungan dari perasaan rendah diri orang lain atau kelompok dan humor pemberontakan terhadap penguasa yang berhubungan dengan suatu situasi Oedipus atau percakapan cabul.

14.          Kreativitas

Kreativitas sering disamakan dengan daya cipta dan daya khayal yang dimiliki anak-anak. Pada pengaktualisasi diri, kreativitas akan didapatkan kembali dalam kehidupan. Kreativitas dilihat sebagai cara kita dalam bereaksi terhadap dunia dan bukan mengenai hal-hal yang sudah jadi dari suatu karya seni.

15.          Resistensi terhadap inkulturasi

Orang yang mengaktualisasikan diri akan mampu mempertahankan otonomi, tanpa terpengaruh kebudayaan lain. 


C. Konsep Kepribadian 


Abraham Maslow
Teori kepribadian Abraham Maslow sering disebut juga dengan teori humanistik, teori personal, kekuatan ketiga dalam psikologi, kekuatan keempat dalam kepribadian, teori kebutuhan, dan teori aktualisasi diri. Namun, Maslow menyebutnya dengan teori holistik-dinamis karena merupakan keseluruhan dari seseorang yang selalu termotivasi oleh satu atau lebih kebutuhan dan orang mempunyai potensi untuk tumbuh menuju kesehatan psikologis, yaitu aktualisasi diri. Agar dapat meraih aktualisasi diri, maka manusia harus memenuhi kebutuhannya terlebih dahulu dimulai dari tingkatan yang paling mendasar, yaitu kebutuhan fisiologis dan terus-menerus naik ke tingkatan yang lebih tinggi hingga mencapai aktualisasi diri. Maslow percaya bahwa setiap orang mampu untuk mengaktualisasi diri, jika belum mampu mencapai level tertinggi ini, disebabkan  karena kebutuhan di level yang lebih rendah belum dapat terpenuhi.

Menurut Maslow kepribadian adalah kemampuan psikologis  seseorang untuk memenuhi dua tuntutan kebutuhan dasar manusia yakni D-needs dan B-needs yang dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya.  Orang yang terpuaskan kebutuhan dasar ternyata lebih sehat, lebih efektif, sedangkan orang yang kebutuhan dasarnya tidak terpuaskan menunjukkan gejala psikopatologis.

Teori Abraham Maslow, tentang motivasi manusia dapat diterapkan pada hampir di seluruh aspek kehidupan pribadi serta sosial. Maslow juga mengatakan bahwa manusia dimotivasi oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah, dan berasal dari sumber genetik atau naluriah. Dan konsep inilah yang mendasar dan unik bagi teori Maslow. Maslow menjadi terkenal karena teori motivasinya, yang dituangkan dalam bukunya “Motivation and Personality”. Dalam buku tersebut diuraikan bahwa pada manusia terdapat lima macam kebutuhan yang berhierarki, meliputi:


a.      Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physiological needs)
Yang mendasar pada teori Maslow adalah pendapatnya tentang kebutuhan fisiologis atau yang biasa disebut dengan kebutuhan biologis. Dimana kebutuhan ini adalah kebutuhan yang paling kuat dan paling jelas diantara kebutuhan-kebutuhan yang lainnya, yaitu kebutuhan mempertahankan hidupnya secara fisik diantaranya adalah: kebutuhan akan makan, minum, tempat tidur, seks dan oksigen.

Maslow mengatakan seseorang yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya, maka ia akan terlebih dulu memburu kebutuhan dasarnya itu sebelum beranjak kepada kebutuhan lainnya. Maslow mengemukakan bahwa manusia adalah binatang yang berhasrat dan jarang mencapai taraf kepuasan yang sempurna, kecuali untuk saat yang tebatas. Apabila suatu hasrat telah terpuasakan, maka hasrat lain muncul sebagai penggantinya.

b.      Kebutuhan akan rasa aman (the safety needs / the security needs)

Setelah kebutuhan-kebutuhan fisiologis dapat terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan baru yang oleh Maslow disebut dengan kebutuhan akan rasa aman. Karena kebutuhan rasa aman biasanya terpuaskan pada orang dewasa yang normal dan sehat, maka cara yang terbaik untuk mengetahui kebutuhan tersebut adalah dengan mengamati tingkah laku orang dewasa yang mengalami gangguan (neurotic). Maslow mengatakan bahwa orang dewasa yang tidak aman, maka ia akan bertingkah laku seperti anak-anak yang tidak aman, ia akan merasa dalam keadaan terancam, disamping itu ia akan bertindak seakan-akan dalam keadaan darurat.

Kebutuhan ini sangat penting bagi setiap orang baik anak, remaja, maupun dewasa. Pada anak kebutuhan akan rasa aman ini nampak dengan jelas, sebab mereka suka mereaksi secara langsung terhadap sesuatu yang mengancam dirinya. Agar kebutuhan anak akan rasa aman ini terpenuhi, maka perlu diciptakan iklim kehidupan yang memberi kebebesan untuk berekspresi. Namun pemberian kebebasan untuk berekspresi atau berperilaku itu perlu bimbingan dari orang tua, karena anak belum memiliki kemampuan untuk mengarahkan perilakunya secara cepat dan benar. Pada orang dewasa, kebutuhan ini memotivasinya untuk mencari kerja, menjadi peserta asuransi, atau menabung uang. Orang dewasa yang sehat mentalnya, ditandai dengan perasaan aman, bebas dari rasa takut dan cemas. Sementara yang tidak sehat ditandai dengan perasaan seolah-olah selalu dalam keadaan terancam bencana besar.

c.       Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki (the love and belongingness needs)

Cinta, sebagaimana kata itu digunakan oleh Maslow, tidak boleh dikacaukan dengan seks, yang dapat dipadankan dengan sebagai kebutuhan fisiologi semata. Ia mengatakan bahwa “tingkah laku seksual ditentukan oleh banyak kebutuhan, bukan hanya kebutuhan seksual melainkan oleh kebutuhan lain, yang utama diantaranya adalah kebutuhan akan cinta dan kasih sayang.” Maslow menyukai rumusan yang dikemukakan oleh Carl Roges tentang cinta, yaitu “keadaan dimengerti secara mendalam dan diterima dengan dengan sepenuh hati.”

Maslow juga mengemukakan bahwa tanpa cinta pertumbuhan dan perkembangan manusia akan terhambat. Bagi Maslow, cinta menyangkut suatu hubungan sehat dan penuh kasih mesra antara dua orang, termasuk sikap saling percaya. Dalam hubungan yang sejati tidak akan ada rasa takut, sering kali cinta akan rusak apabila salah satu pihak merasa takut kalau-kalau kelemahan dan kesalahan akan terungkap. Maslow mengatakan juga, “kebutuhan akan cinta meliputi cinta yang memberi dan cinta yang menerima adalah sama-sama penting dalam membangun hubungan dengan orang lain.”

d.      Kebutuhan akan penghargaan diri (the self-esteem needs)

Pada tahap selanjutnya, kita membutuhkan penghargaan diri. Maslow mencatat dua versi mengenai kebutuhan penghargaan, penghargaan terhadap diri sendiri dan penghargaan yang berasal dari orang lain. Penghargaan terhadap diri sendiri meliputi kebutuhan akan kepercayaan diri, kecukupan, kompetensi, penguasaan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan. Sedangkan, pengharhaan dari orang lain meliputi pengakuan, penerimaan, prestise, perhatian, kedudukan, penghargaan, serta nama baik.

e.      Kebutuhan akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)

Tingkatan terakhir dari kebutuhan adalah aktualisasi diri. Maslow menggunakan berbagai istilah untuk menyebutkan tingkatan ini. Maslow menyebutnya pertumbuhan motivasi, karena kebutuhan aktualisasi diri adalah B-needs (B-being), berbeda dengan D-needs. Kebutuhan aktualisasi adalah kebutuhan yang tidak melibatkan keseimbangan atau homeostatis, tetapi melibatkan keinginan yang terus-menerus untuk memenuhi potensi, untuk menjadi semua yang kita bisa.

Tingkatan segala kebutuhan ini merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan, walaupun pada hakikatnya kebutuhan fisiologis merupakan faktor yang dominan untuk kelangsungan hidup manusia.
Dalam penelitiannya mengenai orang yang mencapai aktualisasi diri, Maslow menggunakan metode kualitatif yang disebut analisis biografi untuk mengetahui aktualisasi diri seseorang. Orang-orang yang mencapai aktualisasi diri juga memiliki cara yang berbeda berhubungan dengan orang lain. Mereka menikmati kesendirian, dan merasa nyaman dengan kesendiriannya, mereka juga menikmati hubungan pribadi dengan beberapa teman dekat dan anggota keluarga secara mendalam.

Daftar Pustaka


Feist, J., & Feist, G. J. (2010). Theories of personality (7th ed.). Boston: Mc. GrawHill.

Riyanto, T. (2006). Jadikan dirimu bahagia. Yogyakarta: PT Kanisius.

Schultz, D. (1991). Psikologi pertumbuhan. Yogyakarta: PT Kanisius.

Supratiknya. (1987). Mahzab ketiga. Yogyakarta: PT Kanisius. 

Perkembangan Kesehatan Mental, Kepribadian Sehat, dan Konsep Kepribadian Menurut Rogers

A. Perkembangan Kesehatan Mental

Self merupakan konstruk utama dalam teori kepribadian Rogers, yang dewasa ini dikenal dengan ”self concept “. Rogers mengartikan sebagai persepsi tentang karakteristik “I” atau “Me” dan persepsi tentang hubungan “I” atau “Me” dengan orang lain atau berbagai aspek kehidupan, termasuk nilai-nilai yang terkait dengan persepsi tersebut. Diartikan juga sebagai keyakinan tentang kenyataan, keunikan, dan kualitas tingkah laku diri sendiri. Konsep diri merupakan gambaran mental tentang diri seseorang, seperti : “Saya cantik”, “Saya seorang pekerja yang jujur”, dan “Saya seorang pelajar yang rajin”.

Hubungan antara “self concept” dengan organisme terjadi dalam dua kemungkinan, yaitu “congruence” atau “incongruence”. Kedua kemungkinan hubungan ini menentukan perkembangan kematangan, penyesuaian, dan kesehatan mental seseorang

Apabila antara “self concept” dengan organisme terjadi kecocokan maka hubungan itu disebut kongruen, tetapi apabila terjadi diskrepansi (ketidakcocokan) maka hubungan itu disebut inkongruen. Contoh yang inkongruen : Anda mungkin meyakini bahwa secara akademik anda seorang yang cerdas , namun ternyata nilai-nilai yang anda peroleh sebaliknya (organisme atau pengalaman nyata).

Sehat atau tidaknya seseorang dilihat dari bagaimana individu menerima cinta pada masa kecilnya. Selama masa perkembangan, individu membutuhkan cinta dan kasih sayang dari orang terdekatnya. Rogers menyebut kebutuhan ini sebagai penghargaan positif (positive regard). Setiap anak terdorong untuk mencari positive regards tetapi, tidak setiap anak mendapatkan hal itu. Anak akan merasa senang dan nyaman jika dia menerima kasih sayang, cinta dan persetujuan dari orang lain, apalagi jika hal tersebut dia dapatkan dari orang-orang terdekatnya namun, jika dia kurang mendapat cinta dan kasih sayang serta mendapatkan ejekan, maka dia akan merasa sangat kecewa dan sedih.

B. Kepribadian Sehat


Ada tiga hal penting yang dikemukakan Rogers mengenai kepribadian yang sehat:

a.              Kepribadian sehat merupakan suatu proses yang terus-menerus dan tidak pernah berhenti. Yang mengakibatkan orientasi manusia menuju masa depan yang bisa di capai dengan mengembangkan segala potensi yang ada pada diri.

b.              Aktualisasi diri merupakan proses yang sulit, menantang, dan menantang bagi individu.

c.              Orang yang mengaktualisasi adalah diri mereka sendiri. Artinya, mereka tidak memanipulasi dirinya sendiri di hadapan orang banyak, dan bertindak sesuai dengan kehendak mereka sendiri, tidak terpengaruh dari luar diri mereka.

Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.

            Selanjutnya, Rogers memberikan lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya :

a.              Keterbukaan kepada pengalaman

            Dalam hal ini manusia mampu menggunakan pengalaman yang pernah dimiliki untuk menggunakannya dalam membuka kesempatan dan persepsi baru.

            Orang yang berfungsi sepenuhnya akan lebih emosional, mereka banyak mengalami emosi positif dan negatif.

b.              Kehidupan eksistensial

            Orang yang berfungsi sepenuhnya akan menyesuaikan diri terhadap pengalaman-pengalaman baru. Setiap merasakan kesegaran terhadap setiap pengalaman yang baru.

c.              Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri

            Manusia akan bertingkah laku sesuai dengan kepercayaan yang dianggapnya benar, bertindak secara bebas dan spontan.

d.             Perasaan bebas

Orang yang sehat akan selalu mempunyai banyak pilihan dalam hidupnya. Ia dapat menentukan sendiri jalan hidupnya,  tanpa ada paksaan maupun pengaruh dari luar. Ia percaya bahwa masa depan ditentukan oleh diri mereka sendiri.
  
e.              Kreativitas
Rogers percaya orang yang berfungsi sepenuhnya mampu menyesuaikan diri, walaupun terjadi perubahan besar pada lingkungannya. Dalam menghadapi perubahan tersebut, mereka akan bertingkah laku kreatif dan spontan.

            Jadi, Rogers menyatakan bahwa orang yang sehat adalah orang yang bisa mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi ini memungkinkan organisme mempertahankan kebutuhan fisiologis. Orang yang mengaktualisasi dapat meningkatkan proses pematangan dan pertumbuhan serta bisa mengembangkan segala potensi yang dimilikinya.

Rogers percaya bahwa manusia memiliki dorongan yang dibawa sejak lahir untuk menciptakan dan hasil ciptaan yang paling penting adalah diri orang sendiri, suatu tujuan yang dicapai jauh lebih sering oleh orang-orang yang sehat daripada orang-orang yang sakit secara psikologisnya.

Menurut Rogers manusia yang rasional dan sadar, tidak dipengaruhi oleh masa kanak-kanak, tetapi menurutnya masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat jauh lebih penting daripada masa lampau. Beliau berpendapat bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi kita memandang masa sekarang yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis.


C. Konsep Kepribadian

Carl Rogers
Self merupakan pengalaman yang unik pada setiap individu. Pengalaman tersebut dipahami menjadi nilai-nilai yang kemudian membentuk self. Pengalaman tersebut dipersepsi menjadi bagian-bagain yang di simbolisasikan menjadi konsep utuh self. Struktur self pada setiap orang dapat berubah sesuai pengalaman yang dialami.

Konsep teori tentang kepribadian Rogers (Rogers dalam Corsini, 2011) mengacu pada sembilan belas pokok pikiran tentang kepribadian, yaitu:

1.             Individu adalah pusat perubahan. Artinya, setiap individu mempunyai pengalaman yang terus berubah.
2.              Individu akan bereaksi terhadap perubahan fenomena sebagaimana hal tersebut dirasakan.
3.              Organisme bereaksi sebagai satu unit yang utuh terhadap bidang fenomena.
4.              Setiap individu berupaya untuk mengaktualisasikan diri.
5.              Beberapa bagian dari keseluruhan ruang yang dipersepsi secara bertahap akan dipisahkan dan menjadi sesuatu yang disebut diri (self).
6.             Hasil interaksi antara lingkungan dengan lingkungan adalah sebagiannya adalah hasil interaksi dengan individu lain, lalu self akan terbentuk.
7.              Untuk mengetahui kepribadian seseorang, dapat mengacu langsung pada individu tersebut.
8.         Manusia berperilaku untuk memenuhi berbagai kebutuhan pada pengalaman yang kemudian akan dipersepsi.
9.              Emosi mengarahkan individu dalam berperilaku.
10.          Setiap pengalaman memiliki nilai, sementara nilai menjadi bagian langsung dari self.
11.        Pengalaman yang terjadi dalam kehidupan individu beroperasi dengan cara: a) dirasakan dan disusun dalam beberapa hubungan langsung dengan diri; b) diabaikan karena tidak ada hubungan yang dirasakan secara langsung  pada struktur diri; dan c) individu menolak menyusun pengalaman karena tidak konsisten dengan struktur diri tersebut.
12.          Manusia akan konsisten dalam berperilaku sesuai dengan konsep diri.
13.  Perilaku dapat disebabkan oleh pengalaman organik dan kebutuhan yang belum disimbolisasikan pada self.
14.       Apabila konsep diri ke tingkat simbolis dalam berhubungan, maka akan terjadi penyesuaian psikologis.
15.     Pengalaman sensoris dan viseral yang ditolak oleh individu, akan menyebabkan kegagalan menyesuaikan diri secara psikologis.
16.    Setiap pengalaman yang tidak sesuai dengan struktur kepribadian individu dinilai sebagai ancaman.
17.    Apabila self tidak sesuai dan dianggap mengancam individu, maka akan di evaluasi dan direvisi.
18.         Apabila pengalaman sensoris dipersepsi dan disatukan ke dalam sisten kepribadian, maka self akan memahami keberadaan individu lain sebagai sesuatu yang terpisah dari dirinya.
19.          Individu akan memperbaharui nilai-nilai yang baru dari setiap pengalaman yang dipersepsi.

Rogers memiliki konsep kepribadian individu yang secara utuh berfungsi (fully functioning person). Konsep ini akan dijelaskan pada bagian tujuan terapi menurut Rogers. Dalam mengatasi pasiennya yang mengalami gangguan, maka Rogers memilih terapi yang berpusat pada klien atau lebih dikenal dengan client centered therapy. Rogers membangun teorinya berdasarkan pengalaman yang diperolehnya sebagai terapis. Berbeda dengan tokoh lainnya, Rogers lebih menyukai menggunakan penelitian empiris untuk mendukung teori perkembangan maupun pendekatan terapinya. Penelitian empiris ini bertujuan untuk menjelaskan psikoterapi dan mengevaluasi hasilnya.

Rogers memberikan dua asumsi dasar dari teori yang berpusat pada pribadi, yaitu :

a.              Kecenderungan formatif

Rogers yakin bahwa terdapat kecenderungan dari setiap hal, yang berevolusi dari bentuk sederhana ke bentuk yang lebih kompleks.

b.              Kecenderungan aktualisasi

Asumsi yang saling berkaitan dan bergerak menuju keutuhan atau pemuasan dari potensi. Kecenderungan ini dimiliki oleh setiap manusia dan mendorong manusia untuk memuaskan kebutuhannya.  Aktualisasi diri berkembang setelah manusia mengembangkan sistem diri dan merujuk kepada kecenderungan untuk bergerak menuju menjadi manusia sepenuhnya.


Tingkah laku manusia hanya dapat dipahami dari bagaimana dia memandang kenyataan secara subyektif. Manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Manusia itu bebas, rasional, utuh, mudah berubah, subjektif,  dan sukar di pahami.

Daftar Pustaka


Feist, J., & Feist, G. J. (2010). Theories of personality (7th ed.). Boston: Mc. GrawHill.
Schultz, D. (1991). Psikologi pertumbuhan. Yogyakarta: PT Kanisius.
Supratiknya. (1993). Teori-teori holistik (organismik-fenomenologis). Yogyakarta: PT Kanisius.

Perkembangan Kesehatan Mental, Kepribadian Sehat, dan Konsep Kepribadian Menurut Allport

A. Perkembangan Kesehatan Mental 


Perkembangan kepribadian sehat menurut Allport tidak sejelas perkembangan diri yang dikemukakannya.

Allport menjelaskan betapa pentingnya hubungan antara ibu dan anak. Hubungan yang penuh kasih sayang, kehangatan, keintiman, perhatian, akan menimbulkan pertumbuhan psikologis yang positif anak. Maka, anak akan membentuk suatu identitas dan gambaran diri yang luas. Selama masa remaja, perkembangan proprium akan terbentuk menjadi frame of reference dan dorongan bagi pertumbuhan yang akan datang.



Jika anak tidak mendapatkan kasih sayang. Kehangatan, keintiman, perhatian, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang agresif, suka menuntut, dengki, egosentris, dan pertumbuhan psikologinya berkurang. Selama dewasa, ia akan didorong oleh konflik anak-anak dan bisa menyebabkan penyakit kejiwaan. 

B. Kepribadian Sehat 



Gordon W. Allport memiliki pandangan yang betolak belakang dengan konsep kepribadian dari Sigmund Freud, kepribadian Allport memusatkan perhatian pada kepribadian sehat daripada kepribadian neurotis. Menurut Allport, kepribadian sehat tidak berdasarkan kekuatan-kekuatan tak sadar ataupun pengalaman masa kanak-kanak. Allport berpendapat setiap manusia memiliki motivasi yang didorong oleh rencana-rencana atau intensi-intensi untuk masa depan, bukan di dorong oleh kekuatan di masa lampau. Tujuan ini memberikan pedoman untuk memahami tingkah laku manusia. Allport menulis, “Memiliki tujuan-tujuan jangka panjang yang dilihat sebagai pusat dari kehidupan pribadi seseorang, membedakan manusia dari binatang, orang dewasa dari anak-anak, dan dalam banyak hal kepribadian yang sehat dari kepribadian yang sakit.”

Kodrat intensional pada kepribadian yang sehat memiliki perjuangan ke arah masa depan untuk mempersatukan dan mengintegrasikan seluruh kepribadian. Kepribadian dapat menjadi utuh dari semua segi dalam mencapai tujuan-tujuan dan intensi-intensi, walaupun seseorang ditimpa konflik. Maksud dan tujuan jangka panjang dapat terpisah-pisah dan tak berhubungan yang akan terjadi pada orang-orang neurotis. Kodrat intensional Allport memiliki pandangan yang berbeda dengan teori Freud, dalam pandangan Allport manusia di dorong oleh tegangan yang berlebihan sehingga mereka terus-menerus didorong untuk mereduksinya.

Manusia yang sehat suka terhadap hal-hal baru, seperti sensasi, tantangan, berspekulasi, mengambil risiko, dan mereka tidak suka terhadap rutinitas. Dengan melakukan hal baru ini, maka akan menimbulkan tegangan dan manusia pun dapat tumbuh.

Orang yang sehat memiliki orientasi ke masa depan yang dapat mempersatukan kepribadian dan mengakibatkan ketegangan bertambah. Ternyata, kebahagiaan bukanlah tujuan dari orang yang sehat dan tidak menjadi pertimbang utama, tetapi hasil sampingan dari integrasi dalam mengejar aspirasi dan tujuan. Menurut Allport, kepribadian yang sehat tidak hanya dilihat dari dari sehatnya jasmani dan rohani, ternyata orang yang memiliki kesedihan dapat dikategorikan sebagai kepribadian yang sehat.

Tujuan yang tidak tercapai sepenuhnya ternyata merupakan suatu keuntungan, karena dengan begitu kita akan mengembangkan cara baru untuk menggantikan cara lama dalam mencapai tujuan. Jadi, kita akan memiliki pengalaman yang lebih bervariasi. Prinsip yang tidak cocok lagi, disebut sebagai “prinsip pengatur tingkat energi”. Orang yang sehat harus terus-menerus mempunyai motif, daya hidup dan impian untuk menghabiskan energinya.

 Selain prinsip pengatur tingkat energi, juga terdapat “prinsip penguasaan dan kemampuan”, kepribadian yang sehat akan menggunakan usaha maksimal dalam memuaskan motif-motif mereka. Orang yang sehat memiliki dorongan yang bersifat konstruktif , makan akan secara aktif dalam mengejar tujuan, impian, dan harapan. Orang yang sehat akan selalu memiliki pandangan ke depan.


Allport merumuskan tujuh kriteria kepribadian yang sehat :

1.              Perluasan perasaan diri

Pada awalnya diri hanya berpusat pada individu, kemudian diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan cita-cita yang abstrak. Karena ketika diri berkembangan akan dapat menjangkau banyak orang maupun benda, dapat berpartisipasi dan melakukan kegiatan dalam jangka yang luas. Semakin seseorang terlibat dalam berbagai aktivitas, maka semakin sehat secara psikologis. Jadi, kepribadian yang matang dapat mengembangkan perhatian ke luar diri.

2.              Hubungan diri yang hangat dangan orang lain

Allport mengkategorikan dua macam kehangatan dalam berhubungan dengan orang lain: kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu.

Orang yang sehat memiliki keintiman terhadap orang tua, anak, teman, pasangan, dan sebagainya. Mereka memiliki identitas diri yang terus berkembang.

Pada orang yang neurotis, mereka akan lebih banyak menerima keintiman daripada memberi, apabila mereka memberi, maka mereka akan memberikan syarat, sedangkan kepribadian yang sehat akan memberi tanpa syarat.

Perasaan terharu merupakan kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang yang sehat akan mampu memahami perasaan orang lain, penyabar, tidak akan menghukum jika orang berbuat salah, dan mampu menerima kekurangan orang lain, orang neurotis akan bersikap sebaliknya.

3.              Keamanan emosional

Penerimaan diri merupakan aspek penting pada kepribadian sehat, mereka akan mampu menerima kelemahan dan kekurangan tersebut. Mereka juga akan mampu menerima dan mengontrol emosi-emosi manusia serta tidak mengganggu aktivitas antarpribadi.

4.              Persepsi realitstis

Kemampuan memandang orang lain, objek, dan situasi secara objektif.

5.              Keterampilan dan tugas

Orang yang sehat mampu menggunakann keterampilan secara ikhlas, antusias, mampu menempatkan diri sepenuhnya pada pekerjaan dengan penuh dedikasi serta komitmen.

6.              Pemahaman diri

Orang yang memiliki tingkat pemahaman diri yang tinggi tidak mungkin memproyeksikan kualitas kepribadiannya yang negatif kepada orang lain. Orang itu akan berbuat adil dan dapat diterima dengan baik oleh orang lain. Orang yang memiliki wawasan diri yang baik akan lebih cerdas.

7.              Filsafat hidup yang mempersatukan

Memiliki pandangan ke depan akan memberikan pengaruh terhadap kepribadian seseorang. Orang yang sehat tentunya akan melihat ke depan, yang didorong oleh tujuan-tujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Menurut Allport, dorongan yang mempersatukan adalah arah (directness), dan lebih terlihat pada kepribadian yang sehat daripada orang yang neorotis. Arah akan membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu tujuan serta memberikan seseorang alasan untuk hidup. Orang yang sehat akan memiliki nilai-nilai yang kuat, jelas, dan bersifat tetap.

C. Konsep Kepribadian


Gordon Williard Allport

Pada teorinya, Allport menekankan pada keunikan individual, ia yakin bahwa dengan mendeskripsikan manusia dengan sifat yang umum akan merampas keunikan individual mereka. Kajian Allport yang mendalam mengenai individu konsisten dengan penekanannya atas keunikan dari setiap manusia. Menurut Allport, pengertian kepribadian merujuk pada kaya persona, yaitu topeng yang digunakan dalam drama Yunani Kuno oleh aktor-aktor Romawi selama abad pertama atau kedua sebelum masehi. Menurut Allport, kepribadian adalah, “organisasi dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan caranya yang khas untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.”

Allport memilih setiap frasa yang digunakan dalam definisinya denga hati-hati agar dapat menyampaikan dengan tepat apa yang ingin dikatakannya. Istilak organisasi yang dinamis menandalkan adanya keterkaitan dari beragam aspek kepribadian. Kepribadian merupakan suatu yang terorganisasi dan terpola. Kepribadian bukanlah organisasi yang statis, namun terus berkembang dan berubah. Istilah psikofisik menekankan pada pentingnya aspek psikologis maupun aspek fisik dari kepribadian.

Kata lain yang digunakan dalam definisi yang mengimplikasikan tindakan adalah menentukan, yang memberikan gagasan bahwa “kepribadian adalah sesuatu dan melakukan sesuatu.” Kepribadian tidak sekedar topeng yang kita gunakan, namun merujuk pada individu dibalik tampilan luarnya.

Melalui karakteristik, Allport berharap untuk mengimplikasikan individual atau khas. Semua manusia memberikan ukiran yang khas pada tiap kepribadian mereka, serta karakteristik perilaku dan pikiran mereka berbeda satu sama lain.

Definisi komprehensif Allport atas kepribadian memberikan gagasan bahwa manusia adalah produk dan proses. Manusia memiliki struktur organisasi, sementara pada saat bersamaan, mereka memproses kemampuan untuk berubah. Pola hadir bersama denga pertumbuhan, sedangkan aturan dengan diversifikasi.

Kesimpulannya, kepribadian meliputi sistem fisik dan psikologis, mencakup perilaku yang tnampak dan pikiran yang abstrak, tidak  hanya merupakan sesuatu, tetapi melakukan sesuatu. Kepribadian adalah substansi dan perubahan, produk, proses, serta struktur dan perkembangan.

Struktur kepribadian


Menurut Allport struktur terpenting dalam mendeskripsikan orang dalam konteks individual disebut disposisi personal. Allport sangat membedakan antara sifat umum dan sifat individual. Sifat umum memberikan gambaran cara hidup manusia dalam suatu budaya dan dapat dibandingkan dengan masyarakat lain, singkatnya ciri general yang dimiliki kebanyakan orang.

Adapun tingkatan dalam disposisi personal adalah :

a.              Disposisi pokok

Karakteristik yang mendominasi pada individu dan bersifat mengatur. Hampir setiap tindakan pada hidup seseorang berkutat di sekitar disposisi pokok. Tidak semua orang mempunyai disposisi pokok, beberapa orang yang memilikinya dikenal dengan karakteristik individual.

b.              Disposisi sentral

Semua orang mempunyai beberapa disposisi sentral yang mencakup 5-10 karakteristik paling menonjol dimana hidup seseorang terfokus di sekitarnya.

c.              Disposisi sekunder

Disposisi ini lebih banyak dalam hal kuantitas daripada disposisi sentral, dan konsepnya pun lebih abstrak. Disposisi ini bertanggung jawab atas perilaku spesifik seseorang.


Perkembangan proprium

Prompium merupakan salah satu syarat untuk menjadi pribadi yang sehat. Proprium tidak dibawa sejak lahir, tetapi berkembang dari masa bayi sampai masa remaja yang terdiri dari tujuh tingkatan :

1.              Diri jasmaniah

Sejak dilahirkan bayi tidak dapat membedakan antara “saya” dan dunia di sekitarnya. Namun, berjalan dengan seiringnya proses belajar dan pengalaman yang didapatkan, lambat laun ia akan mengerti makna antara saya dan sesuatu yang berada di luar dirinya. Pada usia 15 bulan, muncullah tingkat pertama perkembangan proprium diri jasmaniah.

2.              Identitas diri

Anak-anak membuktikan dan menemukan identitas mereka tetap terlepas dari perubahan di lingkungan mereka.

3.              Harga diri

Pada tahap ketiga ini anak memuaskan segala rasa ingin tahunya terhadap segala sesuatu. Maka, ia akan belajar banyak hal dan merasa bangga apabila hasil belajarnya tersebut memuaskan. Apabila, pada tahap ini orang tua tidak bisa memuaskan rasa ingin tahu anak, maka anak akan marah dan merasa terhina.

4.              Perluasan diri (self extension)

Pada umur 4 tahun anak memasuki tahap keempat ini. Ia merasa bahwa sebagian dari sesuatu yang ada di lingkungannya adalah kepunyaan mereka.

5.              Gambaran diri

Gambaran diri diperoleh saat anak berinteraksi dengan orang tua. Saat orang tua menerapkan prinsip rewand and punishment, maka anak akan belajar mengenai sesuatu hal yang boleh dilakukan serta hal yang tidak boleh dilakukan.

6.              Diri sebagai pelaku rasional

Setelah memasuki usia sekolah, anak mulai mengaplikasikan alasan dan pengetahuan untuk mencapai solusi terhadap masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari, pengetahuan tersebut diperoleh dari guru-guru dan teman-temannya di sekolah.

7.              Perjuangan proprium (propriate striving)

Memasuki masa remaja, maka tujuan mereka adalah mencari identitas diri. Pertanyaan seperti, “siapakah saya?” menjadi suatu hal yang sangat penting dan perlu dicari tahu jawabannya. Masa remaja ini sangat menentukan bagi individu, maka mereka akan membentuk suatu tujuan dan rencana untuk menentukan hidupnya. 

Daftar Pustaka

    
Feist, J., & Feist, G. J. (2010). Theories of personality (7th ed.). Boston: Mc. GrawHill.

Schultz, D. (1991). Psikologi pertumbuhan. Yogyakarta: PT Kanisius.

Sunaryo. (2004). Psikologi untuk keperawatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Widyarini, N. (2009). Kepribadian sehat: Kunci pengembangan diri. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
 
Blogger Templates